Mar 05 2011

Ketidakberdayaan Peran Para Ulama Besar Indonesia

Oleh      : Prof. Dr. H. Agmad Satori Ismail

Ulama Indonesia

Ulama Indonesia

Sendi stabilitas dunia ada empat: keberdayaan ulama, keadilan para penguasa, kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fakir-miskin. Bila salah satu sendi tak berfungsi maka yang terjadi adalah instabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Ulama secara etimologis adalah jama’ dari kata-kata ‘alim artinya orang yang memiliki ilmu yang membawanya takut hanya kepada Allah. (lihat surat Al Fathir 28)

Keberdayaan ulama maksudnya kemampuan ulama untuk melaksanakan tugas utama sebagai waratsul ambiya’, sebagai reformer di masyarakat dan melaksanakan tugas amar ma’ruf dan nahi munkar. Peran ini akan terlaksana secara baik bila memiliki ilmu keislaman yang mumpuni sehingga hanya Allah saja yang ditakuti, independen dan bebas dari koptasi penguasa atau kelompok tertentu.

Umat Islam masih menjadi umat terbaik dan berwibawa ketika ulamanya berdaya untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar baik kepada penguasa ataupun kepada seluruh anggota masyarakat. Allah Berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. (Ali Imran, 110)

Ketika ulama tidak melakukan tugasnya sebagai waratsul ambiya’ sehingga membiarkan maksiat berkeliaran di tengah-tengah mereka, maka Allah akan menimpakan kepada umat ini beberapa malapetaka yang mengerikan.

Pertama, umat akan ditimpa siksa atau malapetaka hebat. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Baikhaqi dari Abu Bakar ra. Bahwa Ia Berkata:

Apabila suatu kaum berbuat maksiat di tengah-tengah orang-orang yang lebih mulia dari mereka (yaitu, a.l. para ulama dan umaro) sedangkan mereka tidak merubahnya, maka Allah akan menurunkan malapetaka yang tidak akan dientaskannya dari mereka” (Lihat Musa Muhammad Ali, Al Islam denul insaniyyahm, hal 167)

Krisis yang menimpa bangsa ini tidak lain akibat diamnya para ulama terhadap berbagai kebobrokan dan kemaksiatan yang terjadi di kalangan penguasa dan rakyat pada umumnya. Bahkan ada kecenderungan beberapa ulama dalam segala levelnya sebagai pemberi legitimasi semua kebijakan pemerintah.

Kedua, umat akan dikuasai oleh para preman dan orang jahat.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Kitab Al Hilyah, dari Abur Reqaad, bahwa ia berkata:

Hendaknya kamu memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang munkar dan menyuruh kebaikan atau kamu sekalian akan disiksa bersama atau kamu diperintah oleh orang-orang jahat diantara kamu kemudian bila para tokohnya berdoa tidak lagi akan dikabulkan. (Ibid, hal 168)

Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Utsman r.a. bahwa ia berkata:

Perintah yang ma’ruf dan cegahlah yang munkar sebelum kamu sekalian dikuasai oleh orang-orang jahat dan ketika para tokoh berdoa tidak lagi dikabulkan“.

Munculnya berbagai kerusuhan di mana-mana yang dipicu oleh para provokator, ketidakmampuan aparat keamanan untuk mengantisipasi kerusuhan sebelumnya atau menangkalnya sedini mungkin, di samping juga adanya sebagian tokoh ulama yang sok tahu siapa provokatornya tapi tidak berani menunjuk hdungnya apalagi menangkapnya, semua itu menunjukkan alangkah tidak berdayanya ulama untuk berperak sebagai pemimpin umat dan berusaha untuk mengajak penguasa menyelesaikan kerusuhan tersebut secara bijaksana.

Ketiga, umat akan saling berperang dan membunuh. Akhir-akhir ini, terjadi tawuran dan kerusuhan antara umat Islam sendiri, seperti tawuran antar warga di beberapa daerah, pertarungan anatara pendukung PPP dengan PKB di Pekalongan, Indramayu dan tempat-tempat lainnya, semua itu akibat dari ketidakberdayaan ulama untuk membimbing umat ini secara baik. Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abi ar Riqad bahwa Ia berkata:

Mudah-mudahan Allah mlaknat orang yang bukan dari holongan kami. Demi Allah, hendaknya kamu sekalian memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar atau kamu sekalian akan saling membunuh, kemudian oran-orang jahat (preman) berkuasa atas orang-orang yang baik dan akan menghabisinya sehingga tidak ada lagi orang yang berani ber amar ma’ruf da nahi munkar, lalu kamu sekalian berdoa tapi tidak dikabulkan karena kedurhakaanmu”. (Ibid. Hal 168)

Keempat, tidak dikabulkannya doa umat Islam kendati para ulama dan tokohnya yang memanjatkan doa bersama.

Kita sering mendengar berita adanya istighotsah yang disponsori oleh tokoh masyarakat, dengan harapan agar krisis yang dialami bangsa ini cepat berlalu. Namun kenyataannya, problematika umat semakin komplek menggurita. Karena doa tidak akan dikabulkan bila para ulama tidak berdaya melasaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebagaimana yang diriwayatkan Al Harits dari Ali r.a. bahwa Ia berkata:

Hendaknya kamu sekalian melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau kamu sekalian dikuasai orang-orang jahat dari kamu dan kemudian ketika orang-orang pilihanmu itu berdoa tapi tidak dikabulkan”.

Agar doa bersama kita dikabulkan, krisis dan kerusuhan diangkat Allah, kita perlu merubah apa yang ada didalam diri kita. Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya:

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mau merubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri” (Ar Ra’d 11). Untuk merubah apa yang ada dalam diri bangsa ini, kita perlu melaksanakan beberapa hal, antara lain:

  1. Diharapkan setiap individu baik penguasa, ulama atau rakyat biasa berusaha merubah sikap mental yang ada dalam dirinya agar menghasilkan perilaku yang lebih positif dan produktif. Selama penguasa masih mengutamakan kepentingannya, ulama masih berpangku tangan meihat berbagai penyelewengan, maka bangsa ini tidak akan dientaskan dari krisis yang komplek ini.
  2. Mendorong para ulama dan tokoh masyarakat untuk lebih peduli terhadap amar ma’ruf dan nahi munkar.
  3. Meningkatkan peran orang tua dan tokoh masyarakat untuk memberantas semua bentuk kemaksiatan di rumah dan lingkungan masing-masing.
  4. Organisasi-organisasi Islam hendaknya bekerja sama dan bahu membahu untuk lebih aktif dalam melakukan amar-ma’ruf dan nahi munkar serta meningkatkan kemampuan anggotanya dalam memahami Islam, mengamalkannya dan memperjuangkannya.
  5. Pemerintah dan semua aparatnya diharapkan lebih meningkatkan upaya untuk mengikis habis semua bentuk penyelewengan dan kedurhakaan yang ada pada bangsa yang tercinta ini.

Bila umat Islam serentak melaksanakan hal-hal di atas insya Allah bangsa ini akan mampu merubah kondisi yang memprihatinkan ini menuju kepada masyarakat madani yang diridhai Allah SWT.

Wallahu a’lam bishawab.

Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Alibi3col theme by Themocracy