Feb 20 2011

Demokrasi dan Penghianatan Kekuasaan – Pergolakan di Mesir, Hosni Mubarok

Oleh: H. Muhammad Musa, MA

Politik Mesir

Politik Mesir

Apa yang terjadi di beberapa Negara Timur-Tengah, merupakan pengulangan sejarah dari zaman kezaman. Seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir, pernah terjadi di Indonesia, Piliphina, rumania, Iran, dan Pakistan. Kesemua Negara itu dipimpin oleh penguasa otoriter yang memiskinkan rakyatnya. Sehingga layalnya bisul, tinggal menunggu saatnya pecah.

Revolusi di Rumania misalnya, walau dengan kasus yang berbeda namun mempunyai indikasi yang sama yaitu kesewenang-wenangan dan arogansi penguasa, namun cukup menjadi pelajaran bagi para penguasan otoriter yang akan mengakhiri kekuasaannya. Nicolae Ceausescu misalnya, Presiden Rumania yang berkuasa secara otoriter dari tahun 1974 hingga 1989, mengakhiri kekuasaannya dengan tragis, yaitu mati digantung di alun-alun kota Bukares bersama istrinya. Kemudian sebelum peristiwa di Rumania, Reza Pahlevi sang penguasa Iran dan Zulfikar Ali Bhutho Perdana Menteri Pakistan juga mengalami hal yang sama, yaitu mengakhiri kekuasaanya secara tragis yang berujung pada kematian. Berdasarkan kasus tersebut, layaknya Suharto, Marcos, Zine El Abidine Ben Ali, adalah penguasa yang turun dengan meminta kepastian jaminan keamanan dari Negara terhadap dirinya dan keluarga. Dengan demikian begitulah sebenarnya yang diinginkan oleh Hosni Mubarok, penguasa negeri pyramid selama 30 tahun. Jika tidak, beliau akan tetap mempertahankan jabatannya hingga September 2011 dan setelah itu tak akan mencalonkan diri lagi. Namun beliau berencana menurunkan tahta kekuasaannya kepada putranya yang bernama Jamal, sekalipun hal itu tidak diungkapkan oleh beliau dapam pidatonya pada tanggal 25 Januari 2011.

Tragedi Kekuasaan di Mesir

Mesir dengan pendapatan perkapita kurang dari 1500 USD dilanda kesulitan ekonomi yang parah, dengan tingat angka kemiskinan mencapai 40%. Selain itu juga menghadapi problem serius seputar demokratisasi dan agenda reformasi politik seperti penentangan adanya wacana pewarisan tahta kekuasaan Presiden yang dihembuskan sejak tahun 2004, dari Mubarak kepada putranya Jamal.

Hosni Mubarak

Hosni Mubarak

Meski banyak kalangan mengakui bahwa demonstrasi besar menetang Mubarok ini dimotivasi oleh kesuksesan demonstrasi besar yang terjadi di Tunisia, namun sebenarnya gerakan penentangan terhadap Mubarak telah dimulai jauh sebelum Tunisia bergolak.

Kebencian terhadap Mubarak dan rezimnya mulai mencuat pada tahun 2000, saat ia mencalonkan diri kembali menjadi presiden dengan sistem referendum. Seiring berjalannya system referendum yang tidak demokratis itu, mucullah gerakan ‘Kefaya’ (Cukup Sudah Jadi Presiden) yang dimotori oleh aktifis HAM lintas ideologi politik seperti George Ishak.

Memasuki tahun 2005 sebagai tahun pemili parlemen dan pilpres Mesir, situasi politik tambah memanas. Saat itu pemerintah menolak usulan amandemen terhadap UU Pemilu terutama pada pasal 76 dan 77, karena amandemen hanya akan merugikan rezim ‘seumur hidup’ yang selama ini berkuasa. Kedua pasal itu selama ini menurut barisan oposisi yang terdiri partai Nasseris, Buruh, Al-Wafd, Al-Ghad, dan Ikhwanul Muslimin menilai sangat tidak adil dan tidak demokratis, sehingga sangat tidak memungkinkan untuk memunculkan calon-calon Presiden alternative, karena yang ada hanyalah calon tungal.

Hal itu juga diperparah dengan tidak adanya pengawasan independen terhadap pemilu, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga Mubarak dan partainya menang mutlak dalam pemilu parlemen dan pilpres, meski calon-calon independen dari ikhwanul Muslimin sanggup meraup 80 kursi parlemen atau setara 20% kursi parlemen. Sejak saat itu kehidupan politik di Mesir terus mengalami guncangan, namun rezim masih dapat meredamnya.

Tampaknya kesabaran rakyat Mesir sudah habis setelah pemilu perlemen terakhir pada november 2010 mutlak demenangi oleh partai Mubarak yang berkuasa. Dengan hanya menyisakan 15 kursi untuk oposisi, setelah periode sebelumnya oposisi meraup lebih dari 100 kursi termasuk 80 untuk aktifis ikhwan. Disinyalir kuat pemilu tersebut sarat dengan kecurangan dan rekayasa politik untuk memuluskan rencana Muabrak yang akan mewariskan tahtanya pada September 2011 ini. Sehingga meletuslah revolusi berdarah rakyat Mesir seperti terlihat di layar kaca.

Tragedi Kekuasaan di Indonesia

Sebelum Mesri bergolak, di Indonesia pada tahun 1998 pernah terjadi hal yang sama yaitu menurunkan rezim yang telah berkuasan selama 32 tahun. Pemicunya sama seperti yang terjadi di Mesir, yaitu krisis ekonomi. Pada tanggal 8 Juli 1997, nilai rupiah terhadap dollar AS mulai merosot, sehingga terjadilah krisis ekonomi berskala nasional. Meski bantuan dari IMF sudah disetujui tanggal 31 oktober 1997, lalu ditandatangani Presiden Soeharto tanggal 15 Januari 1998, kemudian anggaran belanja sempat direvisi, lalu gagasan kontroversial CBS dikumandangkan, krisis ekonomi menjalar menjadi krisis kepercayaan.

Puncaknya adalah kenaikan harga yang tak terkendali sehingga memancing unjuk rasa mahasiswa, dan juga kerusuhan secara sporadis. Pada bulan Maret, MPR melakukan sidang umum, namun hasilnya belum juga dapat menurunkan suhu politik. Di bulan April, suhu politik semakin panas, dan bulan Mei merupakan puncak kemarahan rakyat, akibat gejolak politik yang menewaskan sekitar 500 korban, termasuk empat mahasiswa Pahlawan Reformasi dari Universitas Trisakti.

Gejolak yang diwarnai kerusuhan, penjarahan, pembakaran serta berbagai jenis kekerasan lainnya itu, dipicu oleh krisis moneter yang berkepanjangan sejak Juli 1997, dan diakhiri dengan “pendudukan” mahasiswa di kompleks MPR/DPR Senayan, tanggal 19 Mei 1998. Pada akhirnya Presiden Suharto pun mundur.

Pengunduran diri Presiden Soeharto disambut meriah, bukan saja oleh mahasiswa di kompleks MPR/DPR tapi juga sebagian rakyat di jalan-jalan di kota-kota besar di Tanah Air.

YouTube Preview Image

Pesan dan Hikmah Buat Para Pemimpin

Kebanyakan penguasa yang memimpin pasti selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat, namun pada realitasnya justru kebalikannya, sehingga sejarahpun terus berulang dan penderitaan rakyat kecilpun terus berlanjut tanpa mengetahui kapan akan berakhir. Ini adalah dampak dari kesesatan sistemik demokrasi yang selama ini dipahami kedaulatan ada di tangan rakyat. Sehingga siapapun bisa mengatasnamakan rakyat demi kepentingan pribadi dan kroninya, jika kekuasaan berada degenggamannya. Ingatlah wahai para pemimpin, jika anda menjadi pemimpin yang amanah dan adil, maka rakyat akan mendo’akan kebaikan buat pemimpinnya, sebaliknya jika anda menghianati mereka, maka keburukan yang akan anda terima. Sebagaimana Allah SWT telah mengingatkan dalam Qs AL Isra’, 7 :

Jika kamu berbuat baik, berarti kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri, sebaliknya jika kamu berbuat buruk, maka keburukan itu akan berpulang kepadamu”.

Hikmah dibalik peristiwa yang terjadi di Mesir, Tunisia, Indonesia, dan beberapa Negara lainnya adalah menunjukkan betapa tidak abadinya kekuasaan itu, sebagaimana Allah SWT telah mengingatkan dalam Qs Ali Imron, 26:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tugan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut pula kekuasaan itu kepada siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan dan Engkau hinakan siapa saja yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Cukuplah jelas apa yang telah diinngatkan oleh Allah SWT pada ayat di atas, sehingga tidak ada alasan bagi seorang pemimpin untuk berlaku sombong dan arogan. Sebab kekuasaan adalah milik Allah semata, sementera manusia hanyalah sebagai seorang khalifah yaitu pelaksana tugas terhadap apa yang telah detetapkan oleh Allah SWT.

Artikel Terkait:

<iframe title=”YouTube video player” width=”640″ height=”390″ src=”http://www.youtube.com/embed/6MRQSnRZQbE?hd=1″ frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>

Kata Kunci Pencarian: